Eksekutif RSPON https://eksekutif.rspon.go.id/ "Melayani dengan Mulia" Tue, 02 Dec 2025 08:24:23 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.9.1 TIPS MERAWAT ORANG DENGAN DEMENSIA (ODD) ALZHEIMER https://eksekutif.rspon.go.id/tips-merawat-orang-dengan-demensia-odd-alzheimer/ Tue, 02 Dec 2025 08:14:55 +0000 https://eksekutif.rspon.go.id/?p=8965 TIPS MERAWAT ORANG DENGAN DEMENSIA (ODD) ALZHEIMER Penulis:dr. Silvia F. Lumempouw, Sp.N., Subsp.NGD(K), FAAN Demensia Alzheimer adalah jenis demensia/penyakit pikun yang paling banyak menyerang pada usia lanjut dan mengenai 10% dari populasi pada usia 75 tahun ke atas. Penyakit ini bukan proses penuaan normal. Pada tahun 2030, diperkirakan jumlah penderitanya meningkat mencapai 2.3 juta orang […]

The post TIPS MERAWAT ORANG DENGAN DEMENSIA (ODD) ALZHEIMER appeared first on Eksekutif RSPON.

]]>

TIPS MERAWAT ORANG DENGAN DEMENSIA (ODD) ALZHEIMER

Penulis:dr. Silvia F. Lumempouw, Sp.N., Subsp.NGD(K), FAAN

Demensia Alzheimer adalah jenis demensia/penyakit pikun yang paling banyak menyerang pada usia lanjut dan mengenai 10% dari populasi pada usia 75 tahun ke atas. Penyakit ini bukan proses penuaan normal. Pada tahun 2030, diperkirakan jumlah penderitanya meningkat mencapai 2.3 juta orang di seluruh dunia.

 Pengertian umum dari demensia adalah berkurangnya kemampuan fungsi berpikir secara progresif, atau suatu sindrom yang berkaitan dengan penurunan kemampuan fungsi otak, berkurangnya daya ingat, menurunnya kemampuan berpikir untuk memahami sesuatu, melakukan suatu pertimbangan, memahami bahasa serta menurunnya kecerdasan mental, gangguan perilaku dan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Sindrom ini umumnya menyerang di atas usia 65 tahun. Penyakit Alzheimer merupakan penyebab utama terjadinya demensia. Demensia Alzheimer ditandai dengan hilangnya sel-sel otak yang berlangsung secara progresif disebabkan oleh pembentukan beberapa substansi toksik yang merusak sel-sel otak. Demensia Alzheimer menyebabkan hilangnya kemampuan penderita untuk menyimpan memori baru disertai gangguan kognitif lainnya yang sudah mengganggu kemampuan untuk beraktifitas/bekerja/mengikuti kegiatan sosial. Perjalanan penyakit demensia Alzheimer yang progresif lambat pada tingkat sedang dan berat dapat disertai gangguan perilaku seperti agitasi, agresi, menolak bantuan, berjalan tanpa tujuan, mengompol, gangguan tidur, ketidakstabilan emosi, delusi dan halusinasi.

Penting untuk mendapatkan diagnosa pada tahap dini penyakit sehingga dapat diberikan pengobatan yang bermanfaat untuk memperlambat progresivitas dan memperpanjang kemandiriannya, serta dapat merancang masa depan dan melanjutkan pekerjaan sesuai kemampuan yang dimilikinya dengan melakukan stimulasi kognitif, melakukan aktivitas yang dapat mengurangi faktor risiko, mengatur keuangan, mendapat keterangan jelas tentang penyakitnya dan menghilangkan kegalauan untuk gejala yang dirasakannya. Diagnosa dini memberi kesempatan pada keluarga untuk beradaptasi lebih lama dan lebih baik dalam penggantian peran menjadi caregiver dalam menghadapi perubahan perilaku dan kepribadian. 

Gangguan perilaku biasanya menambah beban psikologis, fisik, dan finansial serta aspek sosial yang dirasakan para caregiver (perawat ODD/anggota keluarga). Kurangnya pengetahuan terhadap penyakit dan kurangnya keahlian dalam menangani ODD Alzheimer adalah salah satu alasan yang memperberat beban yang dirasakan oleh para caregiver.

Tulisan ini merupakan panduan praktis untuk para pendamping/caregiver Orang dengan Demensia  (ODD) Alzheimer dan menyediakan tips-tips praktis 3 aspek penting: 
Hidup dengan dan merawat ODD Alzheimer.

  1. Menyesuaikan diri dengan aktivitas harian.
  2. Menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku.
  3. Menyesuaikan diri dengan stres emosional yang timbul selama memberikan perawatan pada ODD Alzheimer.

Memberikan perhatian pada pendamping/caregiver ODD Alzheimer.

Hidup Dengan dan Merawat Penderita Demensia Alzheimer

Pendamping harus menerima kondisi, realistis dan dapat membangun hubungan baik dengan ODD. Perilaku tenang, sabar, peduli, mendukung, ikhlas, memiliki minat merawat, konsisten, dapat dipercaya, mau mendengarkan dan dapat memahami ODD penting dimiliki oleh pendamping.

  • Menciptakan rutinitas harian
    Buat rencana yang konsisten setiap hari termasuk waktu bangun tidur, waktu makan dan melakukan aktivitas, sehingga dapat mengurangi ansietas dan memberikan rasa aman pada ODD.
  • Mendukung kemandirian dan rasa percaya diri ODD
    Kemandirian para ODD Alzheimer dapat mengurangi beban yang dirasakan para caregiver. ODD Alzheimer biasanya mempunyai perasaan dan emosi yang sensitif sehingga membicarakan kondisi penderita di hadapan mereka dapat mengganggu.
  • Hindari konflik, konfrontasi, dan argumen
    • Hindari konfrontasi langsung, yang dapat membuat suasana menjadi stress bagi ODD maupun caregiver.
    • Menciptakan suasana tenang dan penuh humor dapat menjadi penghilang stress yang sangat baik.
  • Keamanan di rumah sangatlah penting
    Yang dapat membantu:
    • Lingkungan sekitar sebaiknya terlihat familiar oleh para ODD, misalnya: adanya album foto lama para ODD.
    • Ciptakan suasana yang tenang dan nyaman.
    • Sediakan furnitur yang nyaman sesuai dengan keterbatasan ODD.
    • Menyediakan pencahayaan yang cukup.
    • Pindahkan keset dan kabel yang dapat menyebabkan ODD terjatuh.
    • Letakkan barang-barang elektronik jauh dari jangkauan ODD.
    • Pindahkan benda-benda tajam atau yang mudah pecah.
    • Letakkan alat bantu pegang (rail) di kamar mandi, toilet dan di samping tangga.
    • Hindari kondisi yang dapat membahayakan, misalnya: lantai yang terlalu licin dan kubangan air di lantai.
    • Tandai pinggir tangga dengan warna-warna cerah untuk menghindari ODD terjatuh.
    • Tutup daerah yang menuju ke taman. 
  • Bangkitkan keinginan berolahraga dan kesehatan melalui beberapa aktivitas dan latihan
    Dokter Anda mungkin telah memberikan nasehat latihan-latihan apa saja yang sesuai untuk ODD Alzheimer sesuai dengan kondisi fisik pasien. Merencanakan aktivitas sesuai dengan kemampuan yang masih dimiliki dapat meningkatkan rasa percaya diri ODD.
  • Komunikasi
    Yang dapat membantu
    • Bicara secara langsung kepada ODD, lakukan kontak mata.
    • Bicara secara jelas, halus, dan perlahan.
      Gunakan kata-kata yang mudah dan kalimat yang pendek.
    • Kurangi suara pada latar belakang yang dapat mengganggu, misalnya: radio, TV.
    • Datangi ODD dari depan, jangan mengagetkannya dari belakang.
    • Berikan waktu pada ODD untuk memberikan reaksi menjawab.
    • Ulangi pesan yang akan Anda berikan bila perlu.
    • Gunakan tanda-tanda non verbal yang positif, misalnya: tersenyum dan menganggukkan kepala yang mengartikan kita mengerti.
    • Tetap tenang pada saat ODD berulang kali menanyakan pertanyaan yang berulang-ulang.
    • Alihkan perhatiannya pada aktivitas lain bila memungkinkan.
    • Gunakan benda-benda visual (foto/gambar, obyek), untuk dapat menyampaikan maksud Anda.

Menyesuaikan Diri Dengan Aktivitas Harian

Mandi dan kebersihan diri, Saran:

  • Teruskan kebiasaan mandi yang sebelumnya rutin dilakukan oleh ODD.
  • Mencoba untuk membuat kegiatan mandi menjadi suatu kegiatan yang menyenangkan.
  • Kegiatan dibuat sesederhana mungkin.
  • Bila ODD menolak untuk mandi, coba lagi.
  • Biarkan ODD melakukan kegiatan sebanyak mungkin tanpa ditolong.
  • Bila ODD tampak malu saat sedang mandi, berikan dan kenakan handuk pada bahu dan pinggang.
  • Pikirkan tentang keselamatan; sesuatu yang kuat untuk dapat menopang, seperti alat untuk berpegangan, karpet non-slip, kursi tambahan.
  • Bila kegiatan mandi selalu berujung pada konflik, mungkin lebih baik memandikan ODD dengan menggunakan spons.
  • Bila Anda selalu menemukan masalah, mintalah bantuan orang lain.

Berpakaian, Saran:

  • Susun pakaian dengan urutan sebagaimana akan dikenakan.
  • Pilihlah pakaian yang mudah untuk dikenakan, sebagai contoh: lebih mudah menggunakan karet daripada kancing, lebih mudah menggunakan sepatu dengan pengait velcro daripada tali sepatu (hal ini juga dapat memudahkan bila ODD mengalami gangguan inkontinensia (mengompol).
  • Beli beberapa set pakaian yang sama bila ODD memaksa untuk menggunakan pakaian yang sama setiap hari.
  • Gunakan pakaian yang dapat dikencangkan dari belakang bila ODD berulang kali melepaskan pakaiannya.
  • Membiarkan ODD berpakaian sendiri semampunya.
  • Gunakan sepatu beralas karet supaya ODD tidak mudah terpeleset.

Buang air dan mencegah mengompol, Saran:

  • Membuat interval jadwal yang teratur untuk ke toilet; setiap 3 jam, setelah makan, sebelum tidur, dsb.
  • Beri tanda pada pintu kamar mandi menggunakan warna cerah dan huruf besar. Biarkan pintu kamar mandi terbuka sehingga memudahkan ODD menemukannya.
  • Pastikan pakaian dapat dengan mudah dibuka.
  • Batasi minum sebelum waktu tidur.
  • Menyediakan pispot di samping tempat tidur dapat sangat membantu.
  • Tetap tenang dan tetap memiliki rasa humor pada saat terjadi kecelakaan, jangan memarahi atau mempermalukan ODD. Meminta saran dari dokter.

Memasak, Saran:

  • Nilai kemampuan ODD untuk memasak makanannya sendiri.
  • Nikmati memasak sebagai aktivitas bersama.
  • Gunakan peralatan yang aman.
  • Pindahkan peralatan tajam.
  • Bila ODD tidak mampu memasak dengan aman, pikirkan kemungkinan lain, seperti katering.
  • Pastikan adanya diet seimbang.

Makan, Saran:

  • Anda mungkin harus mengingatkan/menunjukkan pada ODD bagaimana caranya makan. Hal ini akan memudahkan dan tidak terlalu berantakan.
  • Potong makanan menjadi kecil untuk menghindari ODD tersedak. Pada stadium akhir penyakit, mungkin makanan perlu dibuat lunak ataupun cair.
  • Ingatkan ODD untuk makan secara perlahan-lahan.
  • Waspadai bahwa ODD mungkin tidak dapat merasakan panas atau dingin, dan dapat membakar mulut dengan makanan atau cairan yang panas.
  • Bila ODD mengalami kesulitan menelan, konsultasikan dengan dokter yang merawat bagaimana cara untuk menstimulasi menelan.

Mengemudi, Saran:

  • Bicarakan masalah ini dengan ODD secara tenang.
  • Sarankan penggunaan transportasi publik.
  • Bila Anda tidak berhasil meyakinkan ODD untuk tidak mengemudi, mungkin penting bagi Anda berkonsultasi dengan dokter yang merawat.

Obat-obatan lain dan rokok, Saran:

  • Bila ODD merokok, awasi penggunaan rokok dan korek api.
  • Lebih baik ODD disarankan untuk tidak merokok lagi.
  • Konsultasikan penggunaan obat-obatan lain dengan dokter yang merawat.

Menyesuaikan Diri dengan Perubahan Perilaku

Gangguan Tidur

  • Rencanakan lebih banyak kegiatan pada siang hari dan hindari tidur siang.
  • Sediakan lampu tidur.
  • Sediakan makanan kecil atau susu sebelum tidur, tapi jangan berikan alkohol dan batasi konsumsi kafein sampai hingga siang hari.
  • Konsultasi dengan dokter yang merawat untuk penyebab depresi, bila hal-hal tersebut di atas tidak berhasil.

Perilaku Mengulang

  • Coba alihkan perhatian ODD dengan aktivitas lain.
  • Tuliskan jawaban-jawaban atas pertanyaan yang biasa ditanyakan.
  • Berikan pelukan dan yakinkan dengan kehangatan sentuhan (sentuhan pada bahu atau tangan) bila memungkinkan bagi ODD. 

Mengikuti

  • Berikan suatu kegiatan yang membutuhkan perhatian ODD sementara Anda pergi.
  • Mungkin Anda dapat menghubungi seseorang yang dapat mengawasi sementara, agar Anda dapat memberikan waktu untuk diri sendiri. 

Kecurigaan, tuduhan pencurian, kehilangan barang, dan perilaku paranoid.

  • Jangan berdebat, memberikan alasan maupun tersinggung akibat tuduhan ODD.
  • Simpan duplikat barang-barang yang penting, seperti kunci.
  • Buatlah daftar dimana barang-barang seharusnya diletakkan, temukan beberapa tempat persembunyian favorit ODD.

Delusi dan Halusinasi
Adanya keyakinan yang salah (delusi) termasuk menuduh akan ketidaksetiaan, keyakinan akan ada yang menyakitinya, ketakutan disia-siakan, perilaku meniru, adanya orang asing yang tinggal di dalam rumah, ODD mungkin melihat atau mendengar yang tidak ada (halusinasi auditorik dan visual).
Saran:

  • Jangan berdebat dengan ODD mengenai apa yang dilihat atau didengar. Realita bagi ODD tidak sama dengan realita Anda.
  • Bila ODD merasa ketakutan coba untuk memberikan ketenangan. Suara yang menenangkan dan genggaman tangan dapat memberikan rasa tenang.
  • Coba alihkan perhatian ODD pada sesuatu yang ada di dalam ruangan.
    Konsultasikan pada dokter yang merawat mengenai obat-obatan yang digunakan, mungkin hal ini dapat menjadi salah satu penyebabnya.

Perilaku seksual menyimpang

  • Jangan bereaksi berlebihan atau menyerang ODD; berikan respon secara tenang dan tegas; alihkan perhatian.
  • Jangan berikan pesan seksual, alihkan perhatian pada saat sedang melakukan perawatan personal, mandi, dll.
  • Bila ODD melepaskan pakaiannya; berikan privasi padanya.
  • Jangan beri perhatian pada perilaku tersebut dan alihkan perhatian ODD.

Berjalan tanpa tujuan

  • Sediakan gelang identifikasi.
  • Sediakan area yang aman untuk ODD dapat berjalan, seperti daerah taman yang aman.
  • Sediakan obyek yang sudah dikenal ODD, tanda, dan gambar untuk mencegah ODD tersesat di dalam rumah.
  • Berikan aktivitas yang berarti untuk menghindari ODD berjalan tanpa tujuan.
  • Kurangi stimulasi yang berlebihan (suara, orang-orang ramai).

Agitasi, kekerasan, dan agresi
Dapat disebabkan oleh rasa tidak nyaman, rasa sakit, lelah, sekunder terhadap sakit fisik, stimulasi berlebih (suara, radio, TV), efek samping obat-obatan, atau ODD diberikan terlalu banyak tugas yang sukar atau pertanyaan yang sulit.
Saran:

  • Konsultasikan dengan dokter yang merawat yang dapat mengevaluasi secara medis untuk melihat sumber rasa sakit misalnya konstipasi (kesulitan buang air besar), infeksi, atau kandung kemih yang penuh. Obat-obatan mungkin dapat diganti.
  • Jadwalkan istirahat yang cukup, kurangi suara, stress, dan nyalakan TV bergantian.
  • Hindari memberikan perintah yang sulit dan memerlukan penggunaan memori pada ODD.
  • Tetap tenang.
  • Coba untuk tidak memperlihatkan rasa takut dan sikap waspada.

Depresi dan rasa cemas. Saran:

  • Konsultasi dengan dokter yang merawat untuk mendapat tatalaksana tim terpadu.
  • Berikan lebih banyak cinta, kasih sayang, dan dukungan pada ODD.
  • Jangan mengharapkan ODD dapat sembuh dari depresi dengan cepat.

Menyesuaikan Diri Dengan Stress Emosional Yang Ditimbulkan Selama Memberikan Perawatan Pada Orang dengan Demensia Alzheimer

Rasa Sedih

  • Suatu hal yang alamiah untuk merasakan kesedihan.
  • Coba cari bantuan, menceritakan beban Anda kepada dokter. Bergabung dengan grup pendukung.

Rasa Bersalah

  • Perasaan yang biasa dirasakan disebabkan karena perilaku ODD yang tidak seharusnya, atau rasa marah terhadap seseorang yang Anda cintai atau perasaan Anda tidak dapat lagi merawat ODD Alzheimer.
  • Bicarakan perasaan Anda pada teman-teman terdekat atau berbagi cerita dengan sesama caregiver.

Tips untuk dapat mengurangi stress yang dirasakan oleh caregiver 1. Berikan waktu untuk diri sendiri

  • Pertimbangkan menggunakan perawatan oleh caregiver lain.
  • Menonton acara TV.
  • Buatlah rencana 1 jam sehari atau 1 hari seminggu untuk berlibur dari kegiatan merawat ODD.
  • Pertimbangkan untuk berlibur.
  • Ingatlah, Anda akan lebih bisa merawat orang lain bila Anda memiliki waktu untuk diri sendiri.

Sadari keterbatasan Anda

  • Tanyakan pada diri sendiri, “Apakah saya tidak mendapatkan waktu tidur yang cukup, makan, dan latihan? Apakah saya menangis atau lebih cepat marah lebih sering daripada sebelumnya? Apakah saya merasa sendirian?” Bila Anda menjawab ya pada salah satu pertanyaan tersebut, sudah waktunya Anda meminta bantuan.
  • Cari seseorang untuk diajak bicara pada saat Anda merasa lelah, frustasi, terjebak atau tidak sanggup.

Keluarga

  • Untuk beberapa caregiver, keluarga merupakan sumber bantuan terbesar, tapi bagi caregiver yang lain, keluarga dapat merupakan sumber stress.
    Sangatlah penting untuk menerima bantuan dari anggota keluarga yang lain bila keadaan memungkinkan, serta tidak menanggung beban merawat penderita seorang diri. Bila Anda merasa terbebani karena anggota keluarga yang lain tidak memberikan bantuan, malah mungkin mereka banyak memberikan kritik karena ketidakpahaman mereka terhadap penyakit demensia Alzheimer, mungkin mengadakan suatu rapat keluarga untuk membahas mengenai perawatan ODD dapat sangat membantu.

Jangan salahkan diri sendiri.

  • Jangan salahkan diri Anda atau ODD Alzheimer akibat masalah yang Anda alami. Ingatlah bahwa penyakit sebagai penyebab ODD sulit dimengerti. Bila Anda merasa hubungan Anda dengan teman dan keluarga merenggang, jangan menyalahkan mereka atau diri Anda. Coba cari penyebabnya dan bicarakan dengan mereka. Ingatlah bahwa hubungan dengan orang lain dapat menjadi sumber dukungan yang sangat berharga bagi Anda.

Memberikan Perhatian Pada Caregiver ODD Alzheimer

Hal-hal yang dibutuhkan oleh caregiver adalah:

  • Pertolongan medis dengan diagnosis dan perawatan.
  • Bantuan terhadap tugas-tugas merawat.
  • Istirahat dari kegiatan merawat.
  • Cek kesehatan rutin bagi Anda, sebagai caregiver.

Dalam merawat pasien, caregiver sebaiknya tidak hanya 1 orang. Caregiver sebaiknya terdiri dari beberapa orang atau dibuat waktu yang bergantian dengan caregiver lainnya dalam merawat pasien sehingga dapat mengurangi beban caregiver dan tetap menjaga kesehatan fisik dan mental caregiver. Semua caregiver harus mempunyai waktu untuk mengurus diri sendiri. Caregiver harus menyadari bahwa mereka pun memiliki kebutuhan dan jangan mengabaikannya.

Mereka dapat secara berkesinambungan menambah ilmu mereka berkaitan dengan demensia Alzheimer. Mereka dapat bergabung dalam persatuan caregiver di daerah mereka selama masa memberikan perawatan pada ODD Alzheimer.

Sumber:
Bahan kursus tatalaksana penderita Demensia
Buku Petunjuk tentang Demensia Alzheimer bagi Caregiver
Sepuluh Tanda Penyakit Alzheimer

 

Share Artikel:

Facebook
WhatsApp
Copy Link

Artikel Terkait

Testimoni Neurology Medical Hospital Health care Brain treatment Brain therapy

The post TIPS MERAWAT ORANG DENGAN DEMENSIA (ODD) ALZHEIMER appeared first on Eksekutif RSPON.

]]>
Terapi Pembedahan Epilepsi https://eksekutif.rspon.go.id/terapi-pembedahan-epilepsi/ Wed, 24 Sep 2025 03:14:55 +0000 https://eksekutif.rspon.go.id/?p=8947 Terapi Pembedahan Epilepsi: Solusi Jitu untuk Hidup Bebas Kejang ! Penulis: dr Adi Sulistyanto, Sp.BS, Subsp.SpN-Func(K) Ketika Obat Tak Lagi Cukup, Ada Harapan BaruHidup dengan epilepsi sering kali menjadi tantangan. Kejang yang datang tiba-tiba dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, bahkan membahayakan nyawa. Bagi sebagian besar pasien, epilepsi dapat dikendalikan dengan obat-obatan anti-kejang. Namun, bagaimana jika obat […]

The post Terapi Pembedahan Epilepsi appeared first on Eksekutif RSPON.

]]>

Terapi Pembedahan Epilepsi:

Solusi Jitu untuk Hidup Bebas Kejang !

Penulis: dr Adi Sulistyanto, Sp.BS, Subsp.SpN-Func(K)

Ketika Obat Tak Lagi Cukup, Ada Harapan Baru
Hidup dengan epilepsi sering kali menjadi tantangan. Kejang yang datang tiba-tiba dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, bahkan membahayakan nyawa. Bagi sebagian besar pasien, epilepsi dapat dikendalikan dengan obat-obatan anti-kejang. Namun, bagaimana jika obat yang sudah dikonsumsi secara rutin, bahkan dengan kombinasi, tidak mampu menghentikan kejang?
Inilah yang disebut sebagai epilepsi resisten obat. Kondisi ini menimpa sekitar 30% dari seluruh penderita epilepsi. Jika pasien berada di situasi ini, jangan putus asa. Dunia medis terus berkembang, dan kini ada solusi yang menawarkan harapan besar untuk hidup bebas kejang: terapi pembedahan epilepsi.
Mungkin istilah “operasi otak” terdengar menakutkan. Namun, artikel ini akan membantu  memahami secara gamblang apa itu pembedahan epilepsi, siapa yang cocok menjalaninya, serta bagaimana prosedur ini dapat mengubah hidup menjadi lebih baik.

Apa itu Pembedahan Epilepsi?
Secara sederhana, pembedahan epilepsi adalah prosedur bedah otak yang bertujuan untuk menghentikan atau mengurangi frekuensi kejang. Pembedahan ini dilakukan pada area otak yang menjadi sumber kejang. Tujuannya adalah menghilangkan atau memisahkan area tersebut sehingga kejang tidak bisa menyebar ke bagian otak lainnya.
Penting untuk diingat, pembedahan ini bukanlah opsi pertama. Pembedahan epilepsi dipertimbangkan hanya setelah pasien didiagnosis menderita epilepsi resisten obat dan telah menjalani serangkaian evaluasi menyeluruh.

Siapa yang Cocok Menjalani Pembedahan Epilepsi?
Tidak semua penderita epilepsi bisa menjadi kandidat untuk pembedahan. Kriteria utamanya adalah:

  1. Epilepsi Resisten Obat: Pasien telah mencoba setidaknya dua atau lebih obat anti-kejang yang berbeda, dengan dosis yang tepat, namun kejang masih sering terjadi.
  2. Fokus Kejang Jelas: Kejang berasal dari satu area otak yang teridentifikasi dengan jelas dan aman untuk diangkat atau dinonaktifkan tanpa menyebabkan kerusakan signifikan pada fungsi otak lainnya (seperti memori, bahasa, atau motorik).
  3. Tidak Ada Kontraindikasi Medis: Pasien dalam kondisi kesehatan yang cukup baik untuk menjalani operasi besar.
  4. Untuk menentukan apakah seseorang adalah kandidat yang tepat, tim dokter ahli (neurolog, ahli bedah saraf, neuropsikolog, dan ahli radiologi) akan melakukan evaluasi komprehensif.

Proses Evaluasi Menjelang Pembedahan
Sebelum operasi, pasien akan menjalani serangkaian pemeriksaan canggih. Tujuannya adalah memetakan secara akurat sumber kejang di otak. Beberapa tes yang umum dilakukan antara lain:

  1. Video EEG (Electroencephalogram): Rekaman aktivitas listrik otak sambil memantau pasien dengan video. Ini membantu dokter melihat kejang dan menghubungkannya dengan gelombang otak yang tidak normal.
  2. MRI (Magnetic Resonance Imaging): Pemindaian otak yang sangat detail untuk menemukan kelainan struktural seperti tumor, lesi, atau malformasi pembuluh darah yang bisa menjadi penyebab kejang.
  3. PET (Positron Emission Tomography) Scan: Pencitraan yang menunjukkan area otak dengan metabolisme yang rendah saat tidak terjadi kejang, yang sering kali menjadi petunjuk lokasi fokus kejang.
  4. Neuropsikologi: Tes untuk mengevaluasi memori, bahasa, dan kemampuan kognitif lainnya. Ini penting untuk memastikan area otak yang akan dioperasi tidak vital bagi fungsi-fungsi tersebut.
  5. Wada Test (Intracarotid Amobarbital Procedure): Prosedur ini dilakukan untuk menentukan sisi otak mana yang dominan untuk fungsi bahasa dan memori, sehingga area tersebut bisa dihindari saat operasi.

Jenis-jenis Prosedur Pembedahan Epilepsi
Ada beberapa jenis operasi epilepsi, yang disesuaikan dengan kondisi pasien. Beberapa yang paling umum adalah:

  1. Lobektomi Temporal: Ini adalah jenis operasi paling sering dilakukan untuk epilepsi. Prosedur ini mengangkat bagian lobus temporal yang menjadi sumber kejang, terutama pada kondisi epilepsi lobus temporal. Tingkat keberhasilannya sangat tinggi.
  2. Hemisferektomi: Prosedur ini lebih ekstrem, di mana sebagian besar atau seluruh satu sisi otak (hemisfer) yang rusak diangkat atau diputus hubungannya dari sisi lain. Ini biasanya dilakukan pada anak-anak dengan kerusakan otak parah di satu sisi.
  3. Lesionektomi: Prosedur ini dilakukan untuk mengangkat lesi atau tumor kecil yang menjadi penyebab kejang.
  4. Kallosotomi (Corpus Callosotomy): Prosedur ini tidak menghilangkan sumber kejang, melainkan memutus serat saraf yang menghubungkan dua belahan otak. Tujuannya untuk mencegah kejang menyebar dari satu sisi ke sisi lain. Prosedur ini efektif untuk kejang jenis “drop attack” yang dapat menyebabkan cedera serius.
  5. Pilihan untuk pasien dengan fokus kejang yang tidak dapat direseksi. Operasi bertujuan untuk menanam implan stimulator listrik yang berfungsi mengurangi aktivitas listrik otak yang menyebabkan kejang

Manfaat dan Risiko Pembedahan Epilepsi
Seperti prosedur medis lainnya, pembedahan epilepsi memiliki manfaat dan risiko.
Manfaat Utama:

  1. Bebas Kejang: Manfaat terbesar adalah potensi untuk hidup tanpa kejang sama sekali.
  2. Pengurangan Frekuensi Kejang: Jika tidak sepenuhnya bebas, pasien biasanya mengalami penurunan frekuensi dan intensitas kejang yang signifikan.
  3. Peningkatan Kualitas Hidup: Pasien dapat kembali beraktivitas normal, bekerja, sekolah, bahkan mengemudi (jika memenuhi syarat).
  4. Penurunan Dosis Obat: Banyak pasien bisa mengurangi dosis obat atau bahkan berhenti mengonsumsinya.

Risiko yang Mungkin Terjadi:

  1. Infeksi: Risiko umum pada setiap operasi.
  2. Pendarahan: Dapat terjadi di dalam atau di sekitar otak.
  3. Gangguan Kognitif: Tergantung pada area yang dioperasi, bisa terjadi gangguan memori, bahasa, atau penglihatan. Namun, risiko ini sudah diminimalisasi melalui evaluasi pra-operasi yang cermat.
  4. Kelumpuhan atau Kelemahan: Jarang terjadi, tetapi bisa menjadi komplikasi jika area motorik terpengaruh.

 Proses Pemulihan Setelah Pembedahan
Pemulihan setelah operasi membutuhkan waktu. Pasien biasanya akan dirawat beberapa hari di rumah sakit untuk observasi. Perlu diingat bahwa kejang mungkin tidak langsung hilang. Pasien akan tetap mengonsumsi obat anti-kejang selama beberapa waktu pasca-operasi, yang dosisnya akan disesuaikan secara bertahap oleh dokter.

Dukungan dari keluarga dan tim medis sangat penting selama proses ini. Pasien juga mungkin membutuhkan rehabilitasi, seperti terapi fisik, terapi okupasi, atau terapi wicara, tergantung kebutuhan.

Seputar Pembedahan Epilepsi
Apakah pembedahan epilepsi selalu berhasil?
Tingkat keberhasilan bervariasi tergantung jenis operasi dan lokasi kejang. Untuk lobektomi temporal, tingkat keberhasilannya bisa mencapai 70-80% untuk hidup bebas kejang.

Apakah saya harus berhenti minum obat setelah operasi?
Tidak. Pasien akan tetap mengonsumsi obat anti-kejang setelah operasi. Dosisnya akan disesuaikan secara bertahap oleh dokter ahli.

Apakah pembedahan epilepsi aman untuk anak-anak?
Ya, pembedahan epilepsi sering kali dilakukan pada anak-anak, terutama dalam kasus yang parah. Otak anak memiliki plastisitas (kemampuan untuk beradaptasi) yang lebih baik, sehingga pemulihan sering kali lebih baik.

Berapa lama waktu pemulihan total?
Pemulihan fisik mungkin hanya beberapa minggu, tetapi pemulihan total dan penyesuaian dengan hidup baru tanpa kejang bisa memakan waktu berbulan-bulan hingga satu tahun.

Kesimpulan: Harapan Baru Ada di Depan Mata
Terapi pembedahan epilepsi adalah pilihan yang terbukti efektif bagi mereka yang tidak berhasil dengan pengobatan standar. Dengan tim dokter yang berpengalaman, teknologi terkini, dan evaluasi yang cermat, prosedur ini menawarkan kesempatan untuk mengakhiri penderitaan akibat kejang dan kembali menjalani hidup yang produktif dan berkualitas.
Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan ahli neurologi atau ahli bedah saraf di RS Pon Mahar Mardjono. Cari tahu apakah pembedahan epilepsi bisa menjadi langkah selanjutnya menuju hidup yang lebih baik.

Share Artikel:

Facebook
WhatsApp
Copy Link

Artikel Terkait

Testimoni Neurology Medical Hospital Health care Brain treatment Brain therapy

The post Terapi Pembedahan Epilepsi appeared first on Eksekutif RSPON.

]]>
Mengenal Vertigo, Dizziness, Gejala Vestibulovisual, dan Gejala Postural https://eksekutif.rspon.go.id/mengenal-vertigo-dizziness-gejala-vestibulovisual-dan-gejala-postural/ https://eksekutif.rspon.go.id/mengenal-vertigo-dizziness-gejala-vestibulovisual-dan-gejala-postural/#respond Sat, 21 Jun 2025 16:35:44 +0000 https://eksekutif.rspon.go.id/?p=8499 Mengenal Vertigo, Dizziness, Gejala Vestibulovisual, dan Gejala Postural dr. Yohanna Kusuma, Sp.N, Subsp. NIOO(K) Dizziness atau pusing adalah sensasi orientasi ruang yang terganggu tanpa adanya sensasi Gerakan yang terganggu. Gejala yang diderita antara lain pening atau pusing, hilang keseimbangan, terasa mau pingsa, dan kepala terasa berat. Apabila terdapat gejala pusing disertai dengan gangguan pendengara, gangguan […]

The post Mengenal Vertigo, Dizziness, Gejala Vestibulovisual, dan Gejala Postural appeared first on Eksekutif RSPON.

]]>

Mengenal Vertigo, Dizziness, Gejala Vestibulovisual, dan Gejala Postural

dr. Yohanna Kusuma, Sp.N, Subsp. NIOO(K)

Dizziness atau pusing adalah sensasi orientasi ruang yang terganggu tanpa adanya sensasi Gerakan yang terganggu. Gejala yang diderita antara lain pening atau pusing, hilang keseimbangan, terasa mau pingsa, dan kepala terasa berat. Apabila terdapat gejala pusing disertai dengan gangguan pendengara, gangguan penglihatan, wajah, lengan, atau kaki terasa baal merupakan tanda-tanda yang memerlukan pertolongan dokter. Penyebab pusing bisa dari migrain, infeksi telinga, dehidrasi, stress atau cemas, gula darah rendah atau hipoglikemia, tekanan darah rendah, kekurangn darah merah atau anemia, dan mabuk perjalanan.

Sebelum ke dokter, sebaiknya berbaring hingga pusing hilang, lalu bangun dengan perlahan, bergerak dengna hati-hati dan perlahan, banyak istirahat, dan minum banyak air mineral.

Sekarang, kita mengenal Vertigo. Apa itu vertigo? Vertigo adalah sensasi Gerakan kepala atau tubuh saat tidak terjadi Gerakan atau sensasi Gerakan diri yang terdistorsi saat gerakan kepala normal. Gejala vertigo bisa mual muntah, hilang keseimbangan, pandangan berputar atau miring, nyeri kepala, berkeringat, dan telinga berdenging.

Bagaimana vertigo bisa terjadi? Perubahan posisi secara tiba-tiba, gangguan pada otak seperti tumor, stroke, penyakit Meniere, serta trauma atau luka pada kepala. yang dapat dilakukan sebelum ke dokter yaitu berbaring dalam ruangan gelap dan tenang untuk mengurangi rasa berputar, serta gerakkan kepala dengan hati-hati dan pelan-pelan selama kegiatan sehari-hari, segera duduk saat terasa pusing, nyalakan lampu bila terbangun saat malam, gunakan tongkat jalan apabila beresiko jatuh, tidur dengna dua bantal atau lebih, bangun dari ranjang perlahan, dudul di tepi ranjang terlebih dahulu sebelum berdiri, dan tentunya relaksasi.

Sekarang, kita mengenal gejala vestibulovisual. Sekarang, kita mengenal gejala vestibulovisual. Apa itu gejala vestibulovisual? Gejala vestibulovisual adalah gejala visual yang biasanya diakibatkan oleh patologi vestibular atau interaksi antara sistem visual dan vestibular.

Gejalanya bisa pusing, adanya sensasi Gerakan yang salah, poandangan kabur, pandangan bergerak ke sana ke mari. Penyebab bisa dari genetik, trauma, adanya penyakit vaskular, dan adanya riwayat infeksi atau peradangan. Yang dapat dilakukan sebelum bertemu dokter yaitu istirahat sejenak, bila akan ke dokter sebaiknya diantar oleh keluarga atau teman, tidak berjalan sendiri, dan tentunya minum banyak air mineral. Terakhir, kita mengenal gejala postural.

Gejala postural adalah gejala yan gberkaitan dengan pemeliharaan stabilias postur tubuh, terjadi hanya saat sedang duduk, berdiri, atau berjalan. Gejala postural bisa seperti rasa tidak stabil saat duduk, berdiri, atau berjalan tnapa arah tertentu, adanya kecenderungan untuk jatuh ke arah tertentu, serta sensasi jatuh segera, tapi tidak jatuh, atau bisa dengan disertai jatuh.

Penyebab gejala postural bisa karena adanya Riwayat penyakit autoimun, penyaki serebrovaskular, penyakit infeksi telinga, dan karena bertambahnya usia. Untuk keempat hal di atas, terdapat hal-hal yang dapat dihindari yaitu: perilaku hidup tidak sehat, serperti merokok dan mengkonsumsi alkohol, atau tetap melanjutkan aktivitas saat gejala terjadi, membungkuk saat mengambil barang, disarankan lebih baik jhongkok terlebih dahulu sebelum mengambil barang dan tidak meminum obat secara teratur untuk penyakit yang mendasari.

Daftar Pustaka

  1. Bisdorff AR, Staab JP, Newman-Toker DE. Overview of the international classification of vestibular disorders. Neurol Clin 33 (2015) 541-550.
  2. Bisdorff A, von Brevern M, Lempert T, et al. Classification of vestibular symptoms: towards an international classification of vestibular disorders. J Vestib Res 2009; 19(1–2):1–13.

Share Artikel:

Facebook
WhatsApp
Copy Link

Artikel Terkait

The post Mengenal Vertigo, Dizziness, Gejala Vestibulovisual, dan Gejala Postural appeared first on Eksekutif RSPON.

]]>
https://eksekutif.rspon.go.id/mengenal-vertigo-dizziness-gejala-vestibulovisual-dan-gejala-postural/feed/ 0
Pelatihan Basic Neuro Life Support (BNLS) Angkatan II https://eksekutif.rspon.go.id/pelatihan-basic-neuro-life-support-bnls-angkatan-ii/ https://eksekutif.rspon.go.id/pelatihan-basic-neuro-life-support-bnls-angkatan-ii/#respond Sat, 21 Jun 2025 16:24:23 +0000 https://eksekutif.rspon.go.id/?p=8492 Pelatihan Basic Neuro Life Support (BNLS) Angkatan II Penulis: Mega Fitri Yuniarsih Guna meningkatkan pelayanan keperawatan neurologi, diadakan Pelatihan  Basic Neuro Life Support (BNLS) Angkatan II di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta pada Selasa, 29 April 2025 secara daring melalui zoom meeting. Pelatihan ini dibuka dengan Laporan Penyelenggaraan Pelatihan […]

The post Pelatihan Basic Neuro Life Support (BNLS) Angkatan II appeared first on Eksekutif RSPON.

]]>

Pelatihan Basic Neuro Life Support (BNLS) Angkatan II

Penulis: Mega Fitri Yuniarsih

Guna meningkatkan pelayanan keperawatan neurologi, diadakan Pelatihan  Basic Neuro Life Support (BNLS) Angkatan II di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta pada Selasa, 29 April 2025 secara daring melalui zoom meeting. Pelatihan ini dibuka dengan Laporan Penyelenggaraan Pelatihan oleh Eny Meiliya, S.Kep., MKM selaku Spv. Tim Kerja Pendidikan dan Penelitian, serta diresmikan oleh Prof. Dr. dr. Syahrul, Sp.S(K) selaku Direktur Sumber Daya Manusia, Pendidikan, dan Penelitian Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta.

Pelatihan Basic Neuro Life Support (BNLS) Angkatan II ini dilaksanakan secara blended learning pada tanggal 29 sampai 30 April secara daring, serta tanggal 2 sampai 3 Mei 2025 secara klasikal di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta. Pelatihan ini diikuti oleh 25 (duapuluh lima) orang peserta yang berasal dari instansi rumah sakit di Indonesia diantaranya: RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo,     RSUP Dr. Kariadi, RSUP Persahabatan, RSUP Dr. Hasan Sadikin, RSUP Dr. Sitanala, RSUD Dr. Soetomo, RSUD Dr. Moewardi, RS Otak Dr. Drs. M. Hatta Bukittinggi, RSUD Budhi Asih, RSUD Tarakan, RSUD Pasar Minggu, RSUD Pasar Rebo, dan RSUD Rantau Prapat.

Tujuan dari Pelatihan Basic Neuro Life Support (BNLS) Angkatan II ini adalah peserta mampu memberikan tatalaksana kedaruratan neurologi dengan tepat. Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta memiliki kompetensi  dalam melakukan pengkajian keperawatan neurologi, melakukan tatalaksana kedaruratan pada pasien stroke, melakukan tatalaksana kedaruratan pada pasien cidera kepala, melakukan tatalaksana kedaruratan pada pasien trauma medulla spinalis, melakukan tatalaksana kedaruratan pada pasien infeksi saraf pusat, melakukan tatalaksana peningkatan tekanan intracranial, melakukan tatalaksana kedaruratan pada pasien guillen bare syndrome dan myastenia gravis, dan melakukan tatalaksana kedaruratan pada pasien kejang. 

Share Artikel:

Facebook
WhatsApp
Copy Link

Artikel Terkait

Testimoni Neurology Medical Hospital Health care Brain treatment Brain therapy

The post Pelatihan Basic Neuro Life Support (BNLS) Angkatan II appeared first on Eksekutif RSPON.

]]>
https://eksekutif.rspon.go.id/pelatihan-basic-neuro-life-support-bnls-angkatan-ii/feed/ 0
Stimulasi dan Dukungan Psikologis Anak dengan Epilepsi https://eksekutif.rspon.go.id/stimulasi-dan-dukungan-psikologis-anak-dengan-epilepsi/ https://eksekutif.rspon.go.id/stimulasi-dan-dukungan-psikologis-anak-dengan-epilepsi/#respond Sat, 21 Jun 2025 15:41:09 +0000 https://eksekutif.rspon.go.id/?p=8483 Stimulasi dan Dukungan Psikologis Anak dengan Epilepsi Aisyah Almas Silmina, M.Psi., Psikolog Epilepsi yang biasa dikenal sebagai serangan kejang ternyata memiliki tantangan-tantangan tersendiri bagi anak yang mengalaminya. Hal tersebut tentu saja dapat mempengaruhi kualitas hidup anak dengan epilepsi. Beberapa tantangan yang mungkin dihadapi oleh anak dengan epilepsi diantaranya adalah perundungan atau bullying, stigma negatif, hospitalisasi, […]

The post Stimulasi dan Dukungan Psikologis Anak dengan Epilepsi appeared first on Eksekutif RSPON.

]]>

Stimulasi dan Dukungan Psikologis Anak dengan Epilepsi

Aisyah Almas Silmina, M.Psi., Psikolog

Epilepsi yang biasa dikenal sebagai serangan kejang ternyata memiliki tantangan-tantangan tersendiri bagi anak yang mengalaminya. Hal tersebut tentu saja dapat mempengaruhi kualitas hidup anak dengan epilepsi. Beberapa tantangan yang mungkin dihadapi oleh anak dengan epilepsi diantaranya adalah perundungan atau bullying, stigma negatif, hospitalisasi, dan kepatuhan minum obat. Menurut Epilepsy Action Australia (2007), anak dengan epilepsi memiliki risiko yang lebih tinggi untuk menjadi korban bully ketika anak tersebut terlihat “berbeda” di antara teman-temannya. Selain itu, terjadinya miskonsepsi akibat ketidaktahuan akan penyakit epilepsi dapat menimbulkan stigma negatif atau pandangan keliru yang muncul di masyarakat seperti epilepsi merupakan penyakit yang menular, terjadi karena kekuatan gaib, atau termasuk gangguan jiwa (Maryanti dalam Susilaningsih et. al, 2018).

Akibat dari kesalahan persepsi tersebut, memungkinkan anak dengan epilepsi terlambat untuk mendapatkan pengobatan serta dapat mengembangkan perasaan terisolasi dan mempengaruhi self­-esteem. Selain itu, terdapat pula kondisi dimana anak harus bolak-balik ke rumah sakit untuk melakukan perawatan (hospitalisasi) dapat menjadi pengalaman yang kurang menyenangkan bagi anak. Beberapa efek hospitalisasi diantaranya adalah dapat menimbulkan kecemasan, stress, dan pengalaman traumatik. Lebih lanjut, pentingnya kepatuhan minum obat juga dapat menjadi tantangan, khususnya bagi anak dengan epilepsi usia sekolah atau bahkan remaja dimana mereka harus mengkonsumsi obat pada jam sekolah ataupun di depan teman-temannya. Hal tersebut memungkinkan mereka mengembangkan perasaan malu dan takut sehingga abai akan pentingnya kepatuhan minum obat.

Epilepsi dapat menimbulkan berbagai dampak pada anak, diantaranya adalah gangguan kesehatan fisik, perkembangan kognitif, perkembangan sosioemosional, dan gangguan perilaku. Pada gangguan kesehatan fisik memungkinkan anak untuk kelelahan, kurang energi, terbatasnya aktivitas fisik, cedera fisik, serta kekakuan sendi. Pada perkembangan kognitif, beberapa anak mengalami masalah konsentrasi, daya ingat, hambatan dalam menerima instruksi atau materi pembelajaran, serta kesulitan dalam pemecahan masalah. Hal tersebut dapat mempengaruhi prestasi akademik dan gangguan belajar pada anak. Pada perkembangan sosioemosional, memungkinkan anak untuk mengembangkan perasaan malu, cemas, menarik diri, tidak yakin diri, merasa tidak berharga, merasa tidak berdaya, kontrol emosi kurang baik, masalah sosial, dan depresi. Lebih lanjut, epilepsi pada anak juga dapat berdampak pada gangguan perilaku, seperti masalah perilaku internalizing dan externalizing, serta kemandirian yang kurang baik. Dampak-dampak di atas tentu saja dapat mempengaruhi kualitas hidup anak dengan epilepsi sehingga penting untuk memberikan stimulasi dan dukungan yang tepat pada anak dengan epilepsi.

Beberapa stimulasi yang dapat diberikan pada anak dengan epilepsi diantaranya adalah:

  1. Stimulasi fisik, dengan cara memberikan kegiatan-kegiatan motorik kasar dan halus, yakni meronce, mencapit, menarik garis, bermain clay atau lilin malam, menggambar, mewarnai, dan sebagainya. Anak juga dapat diberikan terapi seperti Sensori Integrasi, Okupasi Terapi, maupun fisioterapi. Tidak lupa untuk memberikan waktu untuk anak beristirahat dengan cukup.
  2. Stimulasi kognitif, dengan cara memberikan contoh-contoh konkrit pembelajaran, membaca buku, bermain puzzle, serta melakukan roleplay atau bermain peran. Tidak hanya itu, orang tua dapat pula menerapkan metode chunking, yaitu membagi informasi menjadi beberapa potongan informasi untuk melatih kemampuan daya ingat anak.
  3. Stimulasi sosioemosional, dengan cara tetap melibatkan anak dalam interaksi sosial di lingkungannya; memperkuat konsep diri anak agar mengembangkan perasaan mampu, berharga, dan berdaya; serta melatih kemampuan anak untuk meregulasi emosinya. Penting bagi orang tua untuk melatih anak memberikan label pada emosi yang ia rasakan; menerima, memvalidasi, dan berempati pada perasaan anak, serta membantu anak untuk menemukan alternatif yang dapat dilakukan untuk mengekspresikan emosinya secara lebih adaptif.
  4. Stimulasi kemandirian, dengan cara tidak langsung mengambil alih tugas anak dan tetap melibatkan anak dalam kegiatan bina diri atau pekerjaan rumah tangga sederhana. Orang tua dapat memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada anak untuk melakukan tugasnya secara mandiri dengan memastikan lingkungan yang aman.

Selain stimulasi, orang tua dapat pula memberikan dukungan psikologis kepada anak dengan epilepsi. Orang tua hendaknya dapat memberikan sikap hangat dan penerimaan akan kondisi  anak. Orang tua dan tenaga kesehatan juga dapat memberikan edukasi terkait kondisi anak, informasi seputar epilepsi, pengobatan yang harus dijalankan oleh anak, serta pola hidup yang harus dijalankan. Penting pula untuk mengajak anak berdiskusi mengenai perasaannya dan berbagi cerita mengenai peristiwa yang terjadi dalam kesehariannya, memberikan alternatif kegiatan positif yang dapat dilakukan anak, mengembangkan minat dan bakatnya, dan berfokus pada hal positif yang dimiliki anak agar dapat mengembangkan konsep diri yang positif.

Share Artikel:

Facebook
WhatsApp
Copy Link

Artikel Terkait

Testimoni Neurology Medical Hospital Health care Brain treatment Brain therapy

The post Stimulasi dan Dukungan Psikologis Anak dengan Epilepsi appeared first on Eksekutif RSPON.

]]>
https://eksekutif.rspon.go.id/stimulasi-dan-dukungan-psikologis-anak-dengan-epilepsi/feed/ 0
PENGALAMAN PASIEN SAAT BEROBAT DI RSPON https://eksekutif.rspon.go.id/elementor-8462/ https://eksekutif.rspon.go.id/elementor-8462/#respond Sat, 21 Jun 2025 14:45:42 +0000 https://eksekutif.rspon.go.id/?p=8462 PENGALAMAN PASIEN SAAT BEROBAT DI RSPON Editor: Marketing RSPON Ny. R (83 tahun), dari Kampung Melayu, Jakarta Timur Ny. R pertama kali ke IGD RSPON pada 24 Juni 2022 dengan keluhan bicara pelo serta lemas pada tangan dan kaki kiri. Pukul 08.00 WIB, Ny. R merosot di kursi saat sedang sholat Dhuha (Ny. R sholat […]

The post PENGALAMAN PASIEN SAAT BEROBAT DI RSPON appeared first on Eksekutif RSPON.

]]>

PENGALAMAN PASIEN SAAT BEROBAT DI RSPON

Editor: Marketing RSPON

Ny. R (83 tahun), dari Kampung Melayu, Jakarta Timur

Ny. R pertama kali ke IGD RSPON pada 24 Juni 2022 dengan keluhan bicara pelo serta lemas pada tangan dan kaki kiri. Pukul 08.00 WIB, Ny. R merosot di kursi saat sedang sholat Dhuha (Ny. R sholat dalam keadaan duduk). Keluhan ini merupakan keluhan pertama. Ny. R memiliki riwayat penyakit sebelumnya yaitu penyakit hipertensi. Keluarga langsung membawa Ny. R ke IGD RSPON dengan waktu kurang dari satu jam perjalanan.

Di IGD RSPON, Ny. R langsung dilakukan pemeriksaan fisik, pemeriksaan neurologis, CT scan kepala, rontgen dada, EKG (rekam jantung), dan laboratorium stroke lengkap. Dari hasil pemeriksaan tersebut, Ny. R didiagnosis stroke iskemik dan harus di rawat inap di RSPON. Ny. R di rawat di ruang VIP lantai 11 dengan Dokter Penanggung Jawab dr. Asnelia Devicaesaria, dr., Sp.N., Subsp.NGD(K). Saat di ruang rawat inap, bicara Ny. R sudah tidak pelo lagi. Lemas pada kaki dan tangan kiri juga sudah berkurang. 

Setelah satu minggu di rawat, Ny. R diperbolehkan pulang dan kontrol rutin ke Poli Eksekutif lantai 5. Ny. R juga rutin mengikuti program fisioterapi di RSPON. Saat ini Ny. R sudah tidak ada keluhan. Ny. R juga menjaga pola makan sehat dan rutin berolahraga agar tidak terkena stroke lagi.

Ny. R merasa senang bisa di rawat RSPON. Penanganan dari tim medis dan tenaga kesehatan RSPON sangat cepat dan baik. Namun keluarga Ny. R memberikan saran agar dilakukan pelatihan komunikasi efektif atau pelayanan prima untuk petugas penunjang seperti petugas admisi, admin yang berhubungan langsung dengan pasien atau keluarga pasien. Sampai sekarang Ny. R kontrol rutin ke Poli Eksekutif RSPON.

Share Artikel:

Facebook
WhatsApp
Copy Link

Artikel Terkait

Testimoni Neurology Medical Hospital Health care Brain treatment Brain therapy

The post PENGALAMAN PASIEN SAAT BEROBAT DI RSPON appeared first on Eksekutif RSPON.

]]>
https://eksekutif.rspon.go.id/elementor-8462/feed/ 0