Lodaer Img

Stimulasi dan Dukungan Psikologis Anak dengan Epilepsi

Aisyah Almas Silmina, M.Psi., Psikolog

Epilepsi yang biasa dikenal sebagai serangan kejang ternyata memiliki tantangan-tantangan tersendiri bagi anak yang mengalaminya. Hal tersebut tentu saja dapat mempengaruhi kualitas hidup anak dengan epilepsi. Beberapa tantangan yang mungkin dihadapi oleh anak dengan epilepsi diantaranya adalah perundungan atau bullying, stigma negatif, hospitalisasi, dan kepatuhan minum obat. Menurut Epilepsy Action Australia (2007), anak dengan epilepsi memiliki risiko yang lebih tinggi untuk menjadi korban bully ketika anak tersebut terlihat “berbeda” di antara teman-temannya. Selain itu, terjadinya miskonsepsi akibat ketidaktahuan akan penyakit epilepsi dapat menimbulkan stigma negatif atau pandangan keliru yang muncul di masyarakat seperti epilepsi merupakan penyakit yang menular, terjadi karena kekuatan gaib, atau termasuk gangguan jiwa (Maryanti dalam Susilaningsih et. al, 2018).

Akibat dari kesalahan persepsi tersebut, memungkinkan anak dengan epilepsi terlambat untuk mendapatkan pengobatan serta dapat mengembangkan perasaan terisolasi dan mempengaruhi self­-esteem. Selain itu, terdapat pula kondisi dimana anak harus bolak-balik ke rumah sakit untuk melakukan perawatan (hospitalisasi) dapat menjadi pengalaman yang kurang menyenangkan bagi anak. Beberapa efek hospitalisasi diantaranya adalah dapat menimbulkan kecemasan, stress, dan pengalaman traumatik. Lebih lanjut, pentingnya kepatuhan minum obat juga dapat menjadi tantangan, khususnya bagi anak dengan epilepsi usia sekolah atau bahkan remaja dimana mereka harus mengkonsumsi obat pada jam sekolah ataupun di depan teman-temannya. Hal tersebut memungkinkan mereka mengembangkan perasaan malu dan takut sehingga abai akan pentingnya kepatuhan minum obat.

Epilepsi dapat menimbulkan berbagai dampak pada anak, diantaranya adalah gangguan kesehatan fisik, perkembangan kognitif, perkembangan sosioemosional, dan gangguan perilaku. Pada gangguan kesehatan fisik memungkinkan anak untuk kelelahan, kurang energi, terbatasnya aktivitas fisik, cedera fisik, serta kekakuan sendi. Pada perkembangan kognitif, beberapa anak mengalami masalah konsentrasi, daya ingat, hambatan dalam menerima instruksi atau materi pembelajaran, serta kesulitan dalam pemecahan masalah. Hal tersebut dapat mempengaruhi prestasi akademik dan gangguan belajar pada anak. Pada perkembangan sosioemosional, memungkinkan anak untuk mengembangkan perasaan malu, cemas, menarik diri, tidak yakin diri, merasa tidak berharga, merasa tidak berdaya, kontrol emosi kurang baik, masalah sosial, dan depresi. Lebih lanjut, epilepsi pada anak juga dapat berdampak pada gangguan perilaku, seperti masalah perilaku internalizing dan externalizing, serta kemandirian yang kurang baik. Dampak-dampak di atas tentu saja dapat mempengaruhi kualitas hidup anak dengan epilepsi sehingga penting untuk memberikan stimulasi dan dukungan yang tepat pada anak dengan epilepsi.

Beberapa stimulasi yang dapat diberikan pada anak dengan epilepsi diantaranya adalah:

  1. Stimulasi fisik, dengan cara memberikan kegiatan-kegiatan motorik kasar dan halus, yakni meronce, mencapit, menarik garis, bermain clay atau lilin malam, menggambar, mewarnai, dan sebagainya. Anak juga dapat diberikan terapi seperti Sensori Integrasi, Okupasi Terapi, maupun fisioterapi. Tidak lupa untuk memberikan waktu untuk anak beristirahat dengan cukup.
  2. Stimulasi kognitif, dengan cara memberikan contoh-contoh konkrit pembelajaran, membaca buku, bermain puzzle, serta melakukan roleplay atau bermain peran. Tidak hanya itu, orang tua dapat pula menerapkan metode chunking, yaitu membagi informasi menjadi beberapa potongan informasi untuk melatih kemampuan daya ingat anak.
  3. Stimulasi sosioemosional, dengan cara tetap melibatkan anak dalam interaksi sosial di lingkungannya; memperkuat konsep diri anak agar mengembangkan perasaan mampu, berharga, dan berdaya; serta melatih kemampuan anak untuk meregulasi emosinya. Penting bagi orang tua untuk melatih anak memberikan label pada emosi yang ia rasakan; menerima, memvalidasi, dan berempati pada perasaan anak, serta membantu anak untuk menemukan alternatif yang dapat dilakukan untuk mengekspresikan emosinya secara lebih adaptif.
  4. Stimulasi kemandirian, dengan cara tidak langsung mengambil alih tugas anak dan tetap melibatkan anak dalam kegiatan bina diri atau pekerjaan rumah tangga sederhana. Orang tua dapat memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada anak untuk melakukan tugasnya secara mandiri dengan memastikan lingkungan yang aman.

Selain stimulasi, orang tua dapat pula memberikan dukungan psikologis kepada anak dengan epilepsi. Orang tua hendaknya dapat memberikan sikap hangat dan penerimaan akan kondisi  anak. Orang tua dan tenaga kesehatan juga dapat memberikan edukasi terkait kondisi anak, informasi seputar epilepsi, pengobatan yang harus dijalankan oleh anak, serta pola hidup yang harus dijalankan. Penting pula untuk mengajak anak berdiskusi mengenai perasaannya dan berbagi cerita mengenai peristiwa yang terjadi dalam kesehariannya, memberikan alternatif kegiatan positif yang dapat dilakukan anak, mengembangkan minat dan bakatnya, dan berfokus pada hal positif yang dimiliki anak agar dapat mengembangkan konsep diri yang positif.

Share Artikel:

Facebook
WhatsApp
Copy Link

Artikel Terkait

Testimoni Neurology Medical Hospital Health care Brain treatment Brain therapy